Sabtu, 08 Juni 2013

Black Swan Theory

Beratus tahun kita percaya angsa itu putih, sampai suatu saat ketika terlihat ada satu ekor saja angsa berwarana hitam, maka keyakinan kita berubah, kita menjadi percaya ada angsa berwarna hitam. Titik ketika kita melihat angsa hitam, merubah persepsi kita akan keyakinan bahwa angsa itu hanya berwarna putih.

Efek ini terjadi dimana mana, kita tidak percaya akan ada krisis moneter, tiba2 terjadi sesuatu dan sekarang kita berubah pandangannya. 911 di New York merubah keyakinan kita akan "aman"nya sebuah gedung dan kota. Gangnam style ditonton semilyar orang dan menghasilkan 8 juta USD untuk Psy hanya dari iklan youtube saja, ini merubah persepsi kita akan kekuatan sebuah youtube.

Dalam kehidupan kita kebanyakan kita melewati kejadian2 yang berkemungkinan besar memang akan terjadi. Kadang2 saja ada kejadian yang kemungkinannya kecil untuk terjadi, bahkan terpikir tidak mungkin, tetapi terjadi juga. Nah itulah "Blackswan".

Seekor kalkun dipelihara sejak kecil oleh sebuah keluarga, dalam pikirannya: kalkun ini sangat percaya akan kasih sayang dan perhatian keluarga ini yang setiap hari mencintainya dan memberi makan. Sehari sebelum thanksgiving, kalkun ini diambil oleh tangan2 yang dipercayainya, dan dipenggal untuk santapan tradisi malam perayaan keluarga tersebut. Pengalaman panjang tidak menjamin keamanan kalkun.

Blackswan terjadi karena kita tidak mampu memprediksi masa depan kita, dimana informasi yang ada tidak berguna, dan kejadian itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Membuat kita buta terhadap kemungkinan kecil yang bisa terjadi itu.

Penemuan benua Amerika, dimana sebenarnya Colombus mencari jalan ke India, adalah sebuah Blackswan. Colombus tidak punya informasi apa yang terjadi kalau dia terus berlayar kesatu arah saja, belum pernah ada yang tau soal benua baru itu, jadi yang terjadipun kejadian yang tidak terpikirkan.

Penemuan internet, facebook, twitter adalah Blackswan. Pecahnya Soviet, maraknya demokrasi di Indonesia, dan banyaknya peristiwa politik Indonesia yang juga masuk dalam katagori Blackswan.

Blackswan bisa negatip (911, kalkun, finansial krisis), bisa juga positip (penemuan benua Amerika, Psy dengan Gangnam). Dan tidak pernah dapat diprediksi sebelumnya. Sering Blackswan terjadi karena "randomness", dan bukan karena sistem atau pengalaman atau perencanaan.

Yang terpenting adalah, sikap kita menghadapi kehidupan, harus selalu siap2 menyediakan diri lebih sering berkemungkinan menemukan Positive Blackswan, dan siap2 menhadapi kemungkinan terjadinya Negative Blackswan.

*Tanadi Santoso,repost

Kebiasaan

Seorang sahabat saya, walaupun sudah naik pesawat nya selalu dengan kelas bisnis, tetap saja kalau kehotel mengambil sabun, shampoo, dan body-lotion nya, sandal kain juga dibawanya pulang. Bahkan naik pesawatpun, kuwe dan sendok nya dimasukkan tas.

Ada teman lain yang kalau makan semua yang ada di meja harus dihabiskan. Katanya ayahnya membiasakan itu sejak dia masih kecil, yang kalau tidak diturutinya dia merasa bersalah. Kalau tidak habis, dia akan bungkus semuanya, walau yang tersisa hanya kepala ikan dan sisa sayur saja.

Kebiasaan terbentuk karena sejak kecil kita diindoktrinasi hal yang sama secara berulang ulang, terus menerus dan berkelanjutan. Jadilah kita manusia yang memiliki prilaku yang sekarang. Terbentuk dan berbeda satu dengan lainnya. Bukan karena baik atau buruk, tapi karena ini menjadi kebiasaan kita berprilaku.

Saya saat di Taiwan kuliah terbiasa “makan tengah malam” (siau-ye) sebelum tidur. Yang tentunya sebenarnya tidak sehat. Sebaliknya teman2 saya orang Taiwan terbiasa tidur siang, setengah jam saat istirahat makan siang bisa tidur di bangku kelas dengan nyaman.

Ketika kita bekerja, kita mulai membentuk kebiasaan kita masing2. Dari jam bangun, merokok atau tidak, pola kerja, memakai agenda atau tidak, membuat catatan kerja atau sekedar dengan ingatan saja. Me-review hasil kerja tiap minggu. Ataupun hal2 lain dalam pekerjaan kita.

Sebagian mempunyai kebiasaan yang baik, sebagian mempunyai kebiasaan yang buruk. Budaya kerja perusahaan juga mulai membentuk karakter kita, apa itu budaya kerja keras kerja lembur, budaya korupsi, budaya “ngobyek” kerjaan, ataupun kedisiplinan menyelesaikan tugas.

Dalam bukunya “Outliers” Malcolm Galdwell bilang dua hal penunjang sukses adalah “kemahiran kita dalam suatu kerja” dan “kesempatan2 yang ada”. Kemahiran harus ditunjang dengan pembelajaran yang berkesinambungan, 10.000 jam “belajar” yang mampu membuat orang jadi mahir.

Kebiasaan menjadi faktor utama yang mampu menunjang sukses kita, kebiasaan untuk mengasah diri kita menjadi lebih baik setiap waktu. Kebiasaan untuk setiap kali belajar dan menjadi lebih ahli, lebih mahir dalam kerja kita. Sehingga suatu saat nanti ketika kesempatan hadir kita telah benar2 siap meraihnya.

Pembentukan kebiasan bukanlah hal yang mudah. Bahkan sering kita salah “memilih kebiasaan” yang tepat. Bahkan membuang sebuah kebiasaan yang burukpun sangatlah sulit. Keyakinan kita akan suatu hal dimasa lalu, telah membentuk prilaku kebiasaan itu.

Teman saya yang suka mengambil sabun dan shampoo itupun tidak bisa saya bilangi lagi. Katanya itu sudah jadi kebiasaan, dan dia merasa itu adalah hal yang “baik” baginya. 

Nah, kebiasaan apa yang anda tahu akan berguna bagi anda? Apakah anda sudah melakukkannya? Apakah anda sudah berupaya menghilangkan kebiasaan2 buruk anda? Ataukah anda tidak perduli? Selamat berpikir, se lamat berupaya, selamat mencoba membentuk kebiasaan baru yang menunjang sukes masa depan. Salam.

*Tanadi Santoso(repost)